Himbauan dan peringatan dari pemerintah kota setempat, seolah tak digubris, mereka pun rela kucing kucingan dan dikejar kejar oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kota Banjarmasin.
Dari hari ke hari, badut-badut jalanan yang berharap belas kasih dari warga maupun para pengendara itu, jumlahnya pun terus bertambah.
Tak hanya orang dewasa, mirisnya anak anak yang masih di bawah umur, bahkan sebagian besar dari mereka masih berstatus sebagai seorang pelajar. Mereka kerap memanfaatkan waktu senggang dengan bekerja sebagai badut jalanan, dengan mengenakan kostum karakter kartun atau superhero.
Dari pantauan hallobanua.com, mereka kerap terlihat dan beraktivitas di sudut kota maupun di perempatan lampu merah, bahkan mencoba menghibur dan mendatangi para pengunjung di rumah rumah makan.
Pelajar berinisial IT, berusia 11 tahun, IM 12 tahun serta R berusia 10 tahun, ketiganya kerap mencari duit tambahan dengan menjadi badut jalanan.
Uang yang didapat setiap hari cukup menjanjikan itu, membuat ketiga bocah laki laki itu terus ketagihan untuk menjadi badut jalanan.
"Sehari bisa lebih dari 100 ribu hasil ngamen jadi badut," aku R (10) kepada hallobanua.com.
Penghasilan sebesar Rp 100 ribu tersebut, harus dibagi lagi kepada pemilik kostum sebagai pengganti uang sewa kostum yang mereka pakai.
"Misalnya sehari dapat 100 ribu, 70 ribu dibawa pulang, 30 ribu dikasihkan sama pemilik kostum," ujarnya pelajar SD yang berdomisili di kawasan Teluk Tiram Banjarmasin Barat itu, seraya mengaku senang karena setiap hari dapat tambahan uang jajan dari hasil keringat sendiri.
Menurut pengakuan dia, menjadi badut jalanan atas kemauan sendiri, tidak ada paksaan dari orang lain.
"Kami senang jadi badut, karena dapat duit ketimbang cuma main di kampung," imbuhnya.
Hal senada diungkapkan bocah laki-laki IT (11), mengaku karena keterbatasan ekonomi, dirinya tak memiliki HP android, sehingga tak bisa ikut belajar secara daring.
"Saya nggak punya HP, jadi sulit belajar online. Mending ngamen jadi badut daripada hanya berdiam diri saja di rumah," cetusnya.
IT juga mengaku, pernah terjaring razia Satpol PP Kota Banjarmasin. Bahkan kostum badut yang ia pakai ngamen disita. Namun hal itu ternyata tidak membuat bocah yang juga masih duduk di kelas IV SD itu jera.
"Dulu sempat tertangkap Satpol PP, malah diancam akan dipenjara selama tiga bulan kalau masih saja jadi badut. Tapi kalau tidak jadi badut saya nggak punya uang. Kami mulai bekerja dari pukul 09.00 pagi sampai dengan sore hari,”ujarnya.
Terkait maraknya pelajar yang jadi badut jalanan itu, saat ini menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kota Banjarmasin. Pemko setempat menyesalkan anak anak masih di bawah umur, terkesan dieksploitasi untuk mencari penghasilan sendiri, dan berjanji akan menertibkan mereka di jalanan.
Penulis: Rian Ahmad
Editor: Yayan



0 Komentar