BKSDA Kalsel Terus Pantau Perkembangan Temuan Trenggiling, Agar Tidak Terjadi Perburuan Liar

hallobanua.com, Banjarmasin - Keberadaan hewan trenggiling yang sempat masuk ke pemukiman warga kemudian berhasil dievakuasi oleh Animal Rescue, kini diserahkan kepada Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan. Senin, (15/02/21) kemarin. 

Setelah diserahkan, ini binatang yang termasuk dalam ordo Pholidota itu akan diletakkan di tempat transit khusus satwa. 

Kepada hallobanua.com, Fungsional, Pengendali Ekosistem Hutan, BKSDA Kalimantan Selatan, Mila Rabiati menjelaskan bahwa trenggiling itu nanti akan mendapat pemeriksaan kesehatan dari dokter hewan, sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. 

"Nanti kita cek kesehatannya, kalau memang diperlukan penanganan medis, akan dirawat oleh dokter hewan profesional yang kita miliki di BKSDA. Kemungkinan akan kita lepas ke kawasan geopark Tahura Sultan Adam di Mandiangin, bisa juga di lokasi lain yang kita nilai masih memungkinkan untuk hewan ini dilepasliarkan ke alam," ujarnya, Senin, kemarin.

Ia juga mengungkapkan, kasus temuan hewan yang dikenal dengan sisik kerasnya ini tidak hanya terjadi sekali ini saja. Hal itu dikarenakan nilai jual dari satwa itu sendiri terbilang mahal dan sangat dicari oleh para pembeli di pasar gelap. 

"Harganya cukup fantastis. Jadi praktek jual beli hewan ini marak terjadi karena banyak permintaan dari luar negeri, karena baik sisik, kuku, tulang maupun daging trenggiling ini dipercaya bisa menjadi obat," tuturnya.

Mila turut mengungkapkan bahwa polpulasi trenggiling saat ini sudah menurun, dikarenakan adanya praktik jual beli secara ilegal.

"Ini dikarenakan populasi trenggiling yang sudah sangat langka dan semakin sedikit jumlahnya akibat perburuan liar," timpalnya.

Karena itu, untuk memastikan trenggiling itu tidak dijadikan hewan buruan ketika dilepas ke alam, pihaknya akan melakukan monitoring secara teratur di tempat hewan itu dirilis. 

"Petugas kita juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana bersikap jika melihat hewan dilindungi. Kemudian kita rutin melakukan patroli di perdagangan satwa. Ini dilakukan untuk menekan angka eksploitasi satwa langka," tutupnya. 

Penulis: Rian | Editor: Yayan

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya